Atsj, 9 September 2025 – Upaya pelestarian budaya lokal sekaligus peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Asmat terus digalakkan. Hal ini ditunjukkan melalui kegiatan Sosialisasi Kurikulum Muatan Lokal yang dilaksanakan di Jew (Rumah Adat Suku Asmat), Distrik Atsj, pada tahun 2025. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Asmat (Barbalina Toisuta, SE., M.Pd), Kepala UPT, Kapolsek, Kepala dan Petua adat setempat, serta para tenaga pendidik dan kepala sekolah dari berbagai jenjang pendidikan.
Dalam kesempatan tersebut, Dinas Pendidikan Kabupaten Asmat memperkenalkan rancangan kurikulum muatan lokal yang berfokus pada warisan budaya Asmat, meliputi seni tari, seni ukir/pahat, bahasa adat, serta berbagai kearifan lokal lainnya. Tidak hanya sekadar dipelajari secara tradisional, muatan lokal ini juga akan dikemas dalam bentuk digital agar lebih mudah diakses baik secara online maupun offline, menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Asmat (Barbalina Toisuta, SE., M.Pd), dalam pemaparannnya menekankan pentingnya menjaga identitas budaya di tengah arus globalisasi. Menurutnya, kurikulum muatan lokal bukan hanya menjadi materi pelajaran tambahan, tetapi sebuah pondasi penting untuk menanamkan rasa bangga terhadap jati diri Asmat sejak usia dini.
“Anak-anak kita harus mengenal dan mencintai budaya sendiri. Tari, ukir, bahasa, dan tradisi adat tidak boleh hilang oleh waktu. Dengan pendekatan digital, kita ingin warisan ini tidak hanya hidup di ruang kelas, tetapi juga bisa dipelajari lintas generasi dan dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang modern,” ungkapnya.
Keterlibatan tokoh adat dalam kegiatan ini memberi nilai tambah yang kuat. Para kepala dan petua adat memberikan dukungan penuh terhadap program tersebut, karena dianggap sebagai jembatan antara pendidikan formal dengan nilai-nilai budaya lokal. Kehadiran unsur petua adat juga memperlihatkan sinergi lintas sektor dalam mendukung pengembangan pendidikan berbasis kearifan lokal.
Sosialisasi ini juga membuka ruang dialog antara pemerintah daerah, tenaga pendidik, dan masyarakat adat untuk menyamakan visi. Guru dan kepala sekolah diharapkan menjadi ujung tombak penerapan kurikulum ini di satuan pendidikan, sehingga budaya Asmat dapat diwariskan secara berkelanjutan, dengan metode yang sesuai perkembangan teknologi dan kebutuhan generasi muda.
Melalui kegiatan ini, Kabupaten Asmat menunjukkan komitmennya untuk menjadikan pendidikan sebagai sarana pelestarian budaya sekaligus penguatan karakter bangsa. Sosialisasi kurikulum muatan lokal di Distrik Atsj diharapkan mampu menjadi langkah awal dalam menciptakan generasi pelajar yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bangga, peduli, dan berakar kuat pada budaya leluhurnya.
